Recomended

Rabu, 18 Juli 2007

Terpesona Pada Dua Perempuan

Saya kerap terpesona saat mendampingi penulis dalam acara diskusi kepenulisan. Dan pagi itu, Sabtu (18/7) saya kembali dibuat terpesona oleh dua penulis: Naning Pranoto dan Asma Nadia. Saya mendampingi mereka dalam sosialisasi Lomba Cerpen ROHTO di Rumah Cahaya Depok.

Di depan puluhan peserta: siswa-siswi dan guru Bahasa Indonesia di sekitar Rumah Cahaya Depok, Naning Pranoto dan Asma Nadia menceritakan proses kreatifnya. Kalau bicara jam terbang di dunia kepenulisan Naning Pranoto memang sudah berpengalaman. Pengelola rayakultura.net itu pernah bekerja di berbagai majalah seperti Mutiara, Ananda, Halo, dan Jakarta-Jakarta. Ia juga pernah menempuh pendidikan di English Laguage Centre in Academic Writing and Creative Writing University of Western Sidney Australia. Satu hal yang menarik dari penulis yang baru mengeluarkan novel Naga Hongkong ini, ia adalah penulis yang suka mengurung diri selama waktu tertentu guna menyelesaikan satu naskah. Seperti saat menulis novel Naga Hongkong, Naning Panoto mengurung diri sekitar satu bulanan untuk merampungkan cerita.

Sedangkan Asma Nadia, Hmmm saya sempat tak percaya ketika ibu dua anak itu mengatakan sering merasa tidak berbakat dalam menulis. Setelah memenangkan Lomba Cerpen Annidapun ia masih sering bertanya-tanya, “Apakah saya berbakat.” Hingga akhirnya sang kakak Helvy Tiana Rosa menguatkan, “tak perlu bakat untuk bisa menulis. Yang diperlukan adalah berlatih dan kerja keras.”

Hal tersebut disetujui oleh Naning Pranoto. Maka naning berpesan pada bapak dan Ibu guru yang hadir agar tidak mengaitkan tulisan siswa dengan bakat. Hal itu bisa mematikan kreativitas dan kepercayaan diri siswa. Bapak dan Ibu Guru harus menghargai setiap karya siswanya. Kalau jelek, wajar, namanya juga masih belajar.

Berbeda dengan Naning Pranoto yang mengurung diri, Asma adalah penulis yang berusaha bisa menulis dalam kondisi apapun. Tetapi Asma juga menyarankan agar setiap orang punya jam biologis; yang terbaik bagi dirinya untuk menulis. Naning Pranoto mengatakan jam biologinya menulisnya sekitar pukul 3 dini hari dan seterusnya. Sedang Asma Nadia adalah ketika anak-anaknya sudah terlelap.

Akhirnya Naning Pranoto mengumumkan lomba menulis cerpen yang diselenggarakan oleh PT ROHTO. Total hadiahnya 80 juta rupiah, lho! Ada tiga kategori dalam lomba ini: SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Umum. Semua bisa ikut asalkan dalam setiap pengiriman naskah menyertakan segel shampo Selsun atau kemasan Lip-Ice.


Meskipun sering menghadiri diskusi menulis, hari itu saya mendapat tambahan ilmu, bahwa keberlanjutan menulis harus dijaga untuk hasil yang maksimal. Kalau bicara soal materi Naning Pranoto dan Asma Nadia telah menikmatinya. Naning Pranoto memebuat beberapa patah kata untuk iklan saja dibayar jutaan rupiah. Sedangkan Asma Nadia, setiap mengeluarkan buku baru, pasti laku, rata-rata terjual di atas 3000 eks dalam hitungan bulanm bahkan minggu saja.

Saya terpesona. Semoga keterpesonaan itu bisa membuat saya, (dan semua peserta yang hadir tentunya) untuk tidak pernah lelah belajar menulis. Di atas segala materi yang didapatkan, kepuasan hati dalam berkarya adalah yang utama, itu yang dikatakan Naning Pranoto dan Asma Nadia di akhir diskusi tersebut.

Salam,
Koko Nata
18/07/2007

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites