Recomended

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 02 Desember 2007

Dongeng dan Lomba Menulis untuk Anak

Jarum jam belum menunjuk angka sepuluh. Namun, anak-anak telah memenuhi Rumah Cahaya Depok. Hari itu, Ahad, 2 Desember 2007 akan diadakan kegiatan dongeng dan lomba menulis. Kegiatan ini merupakan bagian dari seleksi peserta Club Menulis yang akan mulai diselenggara awal tahun 2008. Rencananya, 15 peserta lomba terbaik akan dipilih jadi anggota Club Menulis, dan akan dibina oleh aktivis Rumah Cahaya Depok yang juga merupakan anggota FLP depok.

Pukul 10.00, Kak Azizah membuka acara dengan mengajarkan yel yel pada anak-anak. Kemudian, anak-anak diminta membuat yel yel. lalu dua orang yang berhasil membuat yel yel terbaik mendapatkan hadiah buku.

Pukul 10.30, Kak Tuntas mulai mendongeng. Hari itu temanya tentang pencurian buku di perpustakaan. Tuntas tampak atraktif dengan boneka tangannya yang diberi nama iku, Kiku, dan ek Deni. Dikisahkan, Siku dan Kiku adalah pengunjung di Rumah Cahaya. Siku suka mencuri buku-buku di umah Cahaya. Suatu kali, perbuatan Siku itu dipergoki oleh Kiku. Dan Kiku mengadukannya pada Kek Deni, penjaga Rumah Cahaya. Akhirnya Siku menyesali perbuatannya. Cerita pencurian ini sengaja diangkat, karena belakangan Fifi, yang menjaga Rumah Cahaya Depok sering memergoki anak-anak mencuri buku.

Pukul 11.00, kakak-kakak dari aktivis Rumah Cahaya Depok memberikan kertas pada anak-anak. Mereka diminta untuk menulis ulang dongeng yang barus saja disampaikan oleh Tuntas. Mereka diberi waktu hingga tiga puluh menit. Lomba ini bertujuan, selain untuk mengakrabkan anak-anak dengan teks, juga bertujuan untuk mencari tahu seberapa mampu anak-anak menyerap cerita dan menuliskannya lagi.

Pukul 12.00, anak-anak menyerahkan hasil tulisannya. Lalu, tulisan mereka diseleksi oleh Kak Hadi, Kak Ratno, Kak Tuntas, dan Kak Pipit. Sementara menunggu pengumuman, anak-anak diberi segelas kacang ijo untuk mengisi perut mereka yang mungkin keroncongan.

Pukul 12.30, Kak Pipit mengumumkan pemenang lomba. Semula kami memperkirakan peserta datandari usia sekolah TK sampai kelas 6 SD. Namun, ternyata banyak juga yang sudah duduk di bangku SMP datag mengikuti acara. Akhirnya,bagi kelompok usia sekolah TK sampai kelas lima SD, dipilih tiga pemenang dengan pengurutan juara dari juara 1 sampai 3. sedangkan kelompok usa di atasnya hanya dipilih lima terbaik. Meskipun hadiah hanya berupa buku, para peserta tampak antusias. Semoga pada kegiatan-kegiatan selanjutnya, banyak penerbit yang bias mendukung,. Sehingga buku-buku yang kami berikan cukup memadai. Setelah pemberian hadiah, anak-anak berbaris keluar Rumah Cahaya Depok. Di depan pintu sudah menunggu Kak Ikmal, Kak Nadia dan Kak Chras yang akan membagi-bagikan makanan ringan untuk dibawa pulang.

Menyaksikan antusias para peserta, kami jadi semakin optimis, bulan-bulan ke depan, Rumah Cahaya Depok akan semarak dengan kegiatan-kegiatan yang mampu memberikan sedikit pencerahan bagi lingkungan sosial di sekitarnya. Dan semakin banyak lagi orang-orang behati dermawan yang ikhlas mau berbagi apa saja yang mereka miliki, meski itu hanya berupa tenaga.


Hari itu, saya menyaksikan kerlip semangat di mata teman-teman. Hari itu, saya merasakan keikhlasan memendar dari hati teman-teman. Untuk semua yang datang meramaikan acara, tiada kata yang pantas kuucap selain: Terima kasih, semoga Allah membalas kebaikan kalian.

Salam,

Denny Prabowo

Rabu, 18 Juli 2007

Sosialisasi Lomba dan Workshop Menulis Cerpen

18 Juli 2007 diadakan sosialisasi lomba cerpen yang akan diselenggarakan oleh Rohto bekerja sama dengan Rayya Kultura. Acara ini menghadirkan naning Pranoto dan Asma Nadia sebagai pembicara, mengundang siswa dan guru bahasa Indonesia di seluruh Depok.

















Terpesona Pada Dua Perempuan

Saya kerap terpesona saat mendampingi penulis dalam acara diskusi kepenulisan. Dan pagi itu, Sabtu (18/7) saya kembali dibuat terpesona oleh dua penulis: Naning Pranoto dan Asma Nadia. Saya mendampingi mereka dalam sosialisasi Lomba Cerpen ROHTO di Rumah Cahaya Depok.

Di depan puluhan peserta: siswa-siswi dan guru Bahasa Indonesia di sekitar Rumah Cahaya Depok, Naning Pranoto dan Asma Nadia menceritakan proses kreatifnya. Kalau bicara jam terbang di dunia kepenulisan Naning Pranoto memang sudah berpengalaman. Pengelola rayakultura.net itu pernah bekerja di berbagai majalah seperti Mutiara, Ananda, Halo, dan Jakarta-Jakarta. Ia juga pernah menempuh pendidikan di English Laguage Centre in Academic Writing and Creative Writing University of Western Sidney Australia. Satu hal yang menarik dari penulis yang baru mengeluarkan novel Naga Hongkong ini, ia adalah penulis yang suka mengurung diri selama waktu tertentu guna menyelesaikan satu naskah. Seperti saat menulis novel Naga Hongkong, Naning Panoto mengurung diri sekitar satu bulanan untuk merampungkan cerita.

Sedangkan Asma Nadia, Hmmm saya sempat tak percaya ketika ibu dua anak itu mengatakan sering merasa tidak berbakat dalam menulis. Setelah memenangkan Lomba Cerpen Annidapun ia masih sering bertanya-tanya, “Apakah saya berbakat.” Hingga akhirnya sang kakak Helvy Tiana Rosa menguatkan, “tak perlu bakat untuk bisa menulis. Yang diperlukan adalah berlatih dan kerja keras.”

Hal tersebut disetujui oleh Naning Pranoto. Maka naning berpesan pada bapak dan Ibu guru yang hadir agar tidak mengaitkan tulisan siswa dengan bakat. Hal itu bisa mematikan kreativitas dan kepercayaan diri siswa. Bapak dan Ibu Guru harus menghargai setiap karya siswanya. Kalau jelek, wajar, namanya juga masih belajar.

Berbeda dengan Naning Pranoto yang mengurung diri, Asma adalah penulis yang berusaha bisa menulis dalam kondisi apapun. Tetapi Asma juga menyarankan agar setiap orang punya jam biologis; yang terbaik bagi dirinya untuk menulis. Naning Pranoto mengatakan jam biologinya menulisnya sekitar pukul 3 dini hari dan seterusnya. Sedang Asma Nadia adalah ketika anak-anaknya sudah terlelap.

Akhirnya Naning Pranoto mengumumkan lomba menulis cerpen yang diselenggarakan oleh PT ROHTO. Total hadiahnya 80 juta rupiah, lho! Ada tiga kategori dalam lomba ini: SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Umum. Semua bisa ikut asalkan dalam setiap pengiriman naskah menyertakan segel shampo Selsun atau kemasan Lip-Ice.


Meskipun sering menghadiri diskusi menulis, hari itu saya mendapat tambahan ilmu, bahwa keberlanjutan menulis harus dijaga untuk hasil yang maksimal. Kalau bicara soal materi Naning Pranoto dan Asma Nadia telah menikmatinya. Naning Pranoto memebuat beberapa patah kata untuk iklan saja dibayar jutaan rupiah. Sedangkan Asma Nadia, setiap mengeluarkan buku baru, pasti laku, rata-rata terjual di atas 3000 eks dalam hitungan bulanm bahkan minggu saja.

Saya terpesona. Semoga keterpesonaan itu bisa membuat saya, (dan semua peserta yang hadir tentunya) untuk tidak pernah lelah belajar menulis. Di atas segala materi yang didapatkan, kepuasan hati dalam berkarya adalah yang utama, itu yang dikatakan Naning Pranoto dan Asma Nadia di akhir diskusi tersebut.

Salam,
Koko Nata
18/07/2007

Selasa, 06 Februari 2007

Meluncurkan Kupu-kupu Membedah Tambuli

Buku itu sudah berjam-jam ditunggu kedatangannya. Sebuah buku berjudul Kupu-kupu dan Tambuli. Para penulis buku itu tak sabar. Ingin tahu. Cerpen siapakah yang paling bagus di buku itu ?

Pertanyaan itulah yang terucap dari mulut beberapa peserta Peluncuran dan bedah buku antologi “Kupu-kupu dan Tambuli”, termasuk saya. Arul Khan, Beni Jusuf, Andi Biru Laut, Denny Prabowo, Jonru, Nurhadiansyah, Sakti Wibowo, Sokat, Taufan E. Praft, Zaenal Radar T dan saya sendiri, 11 dari 18 penulis buku, memadati Rumah Cahaya pada Minggu, 26 Pebruari 2006 untuk tahu, apa komentar komite DKJ terhadap cerpen-cerpen kami?

“Saya tidak punya kewajiban untuk memuji. Kalau saya datang ke sini untuk memuji, bukan saya yang rugi. Saya bisa memuji anda selama satu jam. Anda akan pulang dan tidur dengan nyenyak. Bukan saya yang rugi, tapi anda. Anda akan merasa sudah damai dan tentram. Seperti kisah telenovela dimana penjahatnya tertangkap dan si pahlawan hidup berbahagia selama-lamanya dengan gadis cantik jelita. Penonton akhirnya puas karena merasa kejahatan sudah berhasil ditumpas. Orang baik menang. Padahal di dunia nyata kejahatan merajalela sedangkan orang baik entah dimana. Dan masalah tidak dipecahkan,” ujar Agus R. Sardjono

“Kenapa saya tidak memuji ? Sebab terbitnya buku yang memuat cerpen anda ini adalah sebuah pujian tersendiri. Tidak semua orang, karyanya bisa diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Dewan Kesenian Jakarta mempunyai tradisi yang panjang. Sebagai salah satu, jika bukan satu-satunya, center of excelent terhadap seni di Indonesia. Jika sebuah buku diterbitkan oleh center of excelent, maka tidak patut memuji lagi. Pujian hanyalah untuk orang-orang yang malas belajar, bukan untuk seorang calon pendekar. Seorang calon pendekar harus sering dikritik, agar ia rajin berlatih. Bila calon pendekar dipuji, ia akan besar kepala dan mati dalam pertempuran sebab ia besar kepala karena pujian. Bahkan yang lebih parah lagi, si calon pendekar yang dipuji bisa berani menatang guru padepokan lain. Padahal baru beberapa jurus saja, si calon pendekar sudah terkapar tak berdaya oleh guru padepokan lain tersebut. Jadi terbitnya buku ini sudah lebih dari cukup dari pujian,” ujar Mas Agus lagi.

Suasana senyap. Tak ada suara hanya tarikan napas yang kalah oleh bising suara kendaraan bermotor di luar. Semua penulis FLP terdiam, mencerna setiap suku kata yang dilontarkan oleh Mas Agus. Mungkin selama ini kami, kita, saya terlalu banyak makan pujian, sehingga kadang-kadang jadi sombong dan besar kepala.

“Pada satu tingkat tertentu semua cerpen ini baik. Jika dibandingkan dengan karya sastra lain di Indonesia, kualitasnya kurang lebih sama. Bukankah hebat, tuh hampir sama dengan seluruh karya sastra yang ada di koran. Tapi kalau kira-kira kualitasnya sama, DKJ tidak akan menerbitkan karya ini. Kami tidak suka dengan karya yang standarnya rata-rata. Sama. Buku ini adalah sebuah awal, bukan akhir. Jadi, ketika kami datang ke sini lagi beberapa tahun ke depan, anda semua harus sudah menulis di atas rata-rata dari kebanyakan karya sastra di Indonesia.”

Masih banyak nasehat yang diberikan oleh Mas Agus untuk kami. Hari itu saya bagaikan mendapatkan berton-ton harta karun untuk bekal hidup di dunia kepenulisan kemudian. Sungguh nasehat-nasehat itu meskipun menohok tapi mengena di hati. Nasehat itu adalah suplemen, vitamin, yang meskipun rasanya agak pahit tapi bisa membuat tubuh sehat dan kuat. (Koko Nata, Ketua Dept. Program Kegiatan)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites