Recomended

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 09 Desember 2005

Bantuan Buku untuk Rumah Cahaya Pekalongan

Waktu => 9 Desember 2005
Tempat => Rumah Cahaya Pekalongan
Acara => Kiriman Buku untuk Rumah Cahaya Pekalongan









Perjalanan ke Rumah Cahaya Pekalongan

Oleh Leyla Imtichanah
Jumat, 9 Desember 2005


Sore itu, langit di Depok mendung. Maaf, sepertinya malah sudah turun hujan. Syukurlah, cuaca yang kurang menyenangkan itu, tidak menghalangi langkah lima orang utusan dari Rumah Cahaya, untuk berangkat ke Pekalongan. Padahal sebenarnya kalau mau menuruti kata hati, rasanya berat… sekali. Kelima orang utusan itu punya beban tersendiri.

Andi Birulaut, utusan dari Rumah Cahaya Pusat, misalnya. Beliau ingin berangkat dengan kereta, yah meskipun hanya dengan kereta ekonomi. Namun, ternyata beliau dan temannya, Tarjo, utusan dari Rumah Cahaya Penjaringan, ketinggalan kereta (ekonomi). Mau tidak mau, mereka harus naik bus. Padahal kabarnya, Andi Birulaut tidak begitu menyukai aroma bus yang membuat mual.

Nanik Susanti, utusan dari Rumah Cahaya Depok, juga merasa agak berat berangkat ke Pekalongan. Kondisi kesehatannya sedang kurang baik. Dengan berbagai penyakit yang melingkupinya. Pusing, mata berkunang-kunang, plus batuk kering yang pasti muncul kalau terkena angin atau udara dingin. Beberapa hari sebelumnya, dia memeriksakan tensi darah, dan terkejut mendapati tensi darahnya naik. Darah tinggi…?! Seumur-umur, baru kali itu Nanik Susanti terkena darah tinggi. Biasanya, tekanan darahnya normal. Untunglah ternyata setelah dicek, belum termasuk darah tinggi, baru pra. Tapi… tetap saja mengkhawatirkan, kan?

Leyla Imtichanah, utusan dari Rumah Cahaya Pusat, tidak terlalu punya beban yang memberatkannya, kecuali cuma rasa malas. Si Leyla ini memang paling tidak suka bepergian jauh. Sudah terbayang repotnya. Meskipun cuma satu hari dan tidak menginap, bawaannya pasti berat. Belum kalau ada yang terlupa. Belum saat di perjalanan. Tidur di bus dalam kondisi duduk, pasti tidak enak. Belum kalau mau buang air kecil, mesti ditahan sampai pemberhentian berikutnya. Itu pula yang menyebabkan dia jarang pulang, ketika masih kuliah di Semarang. Ditambah lagi, Jumat itu dia memakai baju putih-putih (cuma karena mau matchingin dengan sepatu kets pink-nya). Terbayanglah betapa rok putih itu akan kotor terkena percikan tanah). Wah, Leyla manja banget, ya.... Tapi Leyla menyadari, tanpa kehadirannya, rombongan itu pasti akan “sepi.”

Denny Prabowo, utusan dari Rumah Cahaya Depok, sebenarnya paling antusias dalam perjalanan ke Pekalongan ini. Namun, setelah tahu bahwa dia harus membawa dua kardus berisi buku yang sudah tentu berat, dia kebingungan sendiri. Wah... siapa yang bisa bantuin gue, nih? pikirnya. Sebelumnya memang direncanakan, kelima orang itu akan berangkat bersama-sama, tetapi ternyata karena ada sesuatu hal, mereka harus terpisah. Andi Birulaut dan Tarjo baru berangkat selepas Isya, sedangkan Denny Prabowo, Nanik Susanti, dan Leyla Imtichanah berangkat lebih dulu selepas Magrib. Tidak mungkin kan mengandalkan Nanik Susanti yang sedang tidak enak badan, dan Leyla Imtichanah yang bawaannya sendiri saja sudah berat? Satu tas besar berisi pakaian dan peralatan wanita (padahal cuma satu hari dan tidak menginap!), dan satu tas kecil berisi makanan. Untunglah ada Hadi, kru Rumah Cahaya Depok, yang mau membantu membawakan meskipun hanya sampai agen bus. Alhamdulillah, terima kasih, Hadi....

At last, rombongan itu berangkatlah. Kali ini saya bercerita dari sudut pandang Denny Prabowo, Nanik Susanti, dan Leyla Imtichanah. Ketiga orang itu naik bus AC Ekonomi. Dananya memang terbatas. Kalau kurang, ditanggung sendiri. Nanik Susanti sebenarnya malas sekali naik bus. Seperti juga Andi Birulaut, dia selalu merasakan mual setiap kali mencium aroma bus. Pasti muntah. Pasti pusing. Pasti kliyeng-kliyeng. Ternyata, oh ternyata, tidak sebegitunya amat. Nanik Susanti kemudian merasakan bahwa naik bus ternyata juga menyenangkan.

Tak berapa lama, Andi Birulaut menelepon Leyla Imtichanah. Mengabarkan kalau dia baru bisa berangkat selepas Isya dan mungkin sampai di Pekalongan jam tujuh pagi. Belakangan Leyla tahu, kondisi Bang Andi lebih buruk lagi. Dia naik bus ekonomi (kayaknya sih non AC), sebab, di bus itu semua orang merokok. Wah, tersiksa banget, kan....

Sampai jam sembilan (kira-kira), Denny, Leyla, dan Nanik, masih menikmati perjalanan dengan ngemil dan ngobrol. Tak lama, Leyla tertidur. Denny dan Nanik masih mengobrol. Sayup-sayup Leyla mendengar tema obrolan mereka, tapi kemudian menghilang seiring dengan semakin nyenyaknya dia tidur. Berhubung Leyla tertidur, cerita tidak dapat dilanjutkan J Pokoknya, tahu-tahu sekitar jam setengah dua belas, bus berhenti di sebuah rumah makan. Saat itulah Leyla tahu kalau ternyata itu sudah pemberhentian yang kedua.

Jam dua belas malam, bus berangkat lagi. Tidur mereka tak lagi nyenyak, karena belum juga tertidur, mereka harus pindah bus! (ini yang paling tidak menyenangkan kalau naik bus). Semua bingung. Bagaimana cara membawa dua kardus yang berat itu, sementara supir bus sudah teriak-teriak menyuruh turun? Kalau mau dijabanin, bisa saja sih diladenin tuh omelan. Siapa yang takut...? But, masalahnya, kalau dijabanin, nanti ketinggalan bus pengganti. Tambah repot, kan? Akhirnya, Denny mengeluarkan tenaga ekstra guna mengangkut kardus itu. Leyla dan Nanik cuma membatin, aduh, kasihan deh kamu, Den. Tapi gimana lagi? Kita nggak bisa bantu..... Kesannya useless banget, ya?

Akhirnya... sampai juga di Pekalongan, jam setengah empat pagi. Tak lama, rombongan FLP Pekalongan datang menjemput. Aveus Har, Yossy Maylani, Nikmah Maula, N. Dien, Eko, dan... (aduh... satu lagi lupa. Kebiasaan, deh!). Yang cowok bonceng yang cowok, yang cewek bonceng yang cewek. Inilah perbedaan perempuan Jakarta dengan perempuan Pekalongan (atau daerah pada umumnya). Di Jakarta, susah sekali mendapatkan perempuan yang bisa mengendarai motor. Alasannya, angkot banyak, bus apalagi. Di Pekalongan sebaliknya. Mari kita perkenalkan Yossy Maylani, si mantan racer yang kalau mengendarai motor bisa sampai 80 Km/ Jam. Leyla yang selalu berjodoh dengannya dalam naik motor, hampir saja terbang terbawa angin dan harus berpegangan dengan Yossy, biar kalau jatuh sama-sama J. Bang Andi juga bilang, “ada yang naik motornya pelan-pelan, nggak?” Wah... nggak nyangka deh. Ternyata Bang Andi selain tidak bisa naik motor, juga tidak mau naik motor yang ngebut!

Dan begitulah. Mereka menginap di rumah Paklik Yossy yang sangat ramah dan baik hati. Rumah itu jugalah yang menjadi markas Rumah Cahaya Pekalongan. Subhanallah! Rumah itu sangat sederhana. Dengan dinding dari bambu, lantai ubin, penerangan sederhana, air harus nimba, buang air besar di kebun (perkiraan saja, sih, soalnya kami tidak pernah tahu di mana WC-nya. Kalau mau ke WC, harus menumpang di rumah saudara Yossy lainnya).

Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat orang-orang betah tinggal di sana. Rumah itu memang sangat ramah dan terbuka. Setiap hari anak-anak datang membaca buku, malam hari gantian bapak-bapak yang main catur di terasnya. Dua minggu sekali, anak-anak FLP Pekalongan datang untuk berdiskusi tentang kepenulisan. Siapa saja boleh datang dan Paklik Yossy sekeluarga tidak pernah keberatan. Paklik Yossy selalu menekankan untuk menjadikan rumah itu seperti rumah sendiri. Ini bukan basa-basi. Semua orang memang tidak sungkan memasuki rumah itu, bahkan menumpang mandi, dan Subhanallah! Paklik Yossy sama sekali tidak merasa berat ketika harus menimba untuk mengisi bak mandi yang kosong. Khusus untuk menyambut utusan Rumah Cahaya, beliau memotong ayam kampung peliharaan sendiri!

Usai berbincang-bincang sejenak, jam setengah lima pagi, semua mengerjakan rutinitasnya masing-masing. Salat Subuh, mandi, dan tidur sejenak. Jam tujuh pagi, sambil menunggu Andi Birulaut dan Tarjo datang, Yossy Maylani (ketua RC Pekalongan) dan Eko (ketua FLP Pekalongan), mengajak Leyla, Denny, dan Nanik, berjalan-jalan ke pantai. Kata Paklik Yossy sih, jaraknya cuma 7 kilo, tapi setelah dijabanin... ternyata jauh juga. Naik motor lagi. Tangan Nanik sampai kram karena berpegangan di bawah motor. Dan memang, ke mana-mana kami selalu naik motor. Tentu saja itu menyenangkan. Siapa yang bilang tidak? Melihat pantai yang betapa indahnya, Nanik Susanti merenung di atas batu. Terlihat sangat dewasa. Tapi begitu hendak difoto oleh Denny, dia segera mengeluarkan senyum imutnya yang childish.

Leyla sangat senang karena Yossy dan Eko tak henti-hentinya memotretnya. Maklum, baru sekalinya itu ketemu seleb J. Yossy dan Eko agak terheran-heran menghadapi the real Leyla yang narcis abis. Kemudian melihat foto digital mereka. Lho, kok isinya foto Leyla semua, ya? Baru sadar mereka.

Jam sembilan pagi, mereka pulang ke rumah Paklik Yossy. Bang Andi menelepon Leyla, katanya sudah sampai. Minta tolong dibelikan makanan dan coffemix. Kata Yossy, sudah ada coffemix di rumah. Leyla menekankan, harus coffemix! Kalau nggak, Bang Andi pasti nggak mau. Ternyata memang coffemix, tapi tetap saja salah. Harusnya Nescafe, bukan ABC. Wah...!

Jam sepuluh pagi, serah terima bantuan dari Rumah Cahaya Pusat ke Rumah Cahaya Pekalongan. Semoga bisa menambah koleksi buku di Rumah Cahaya Pekalongan yang subhanallah, baru ada satu rak saja! Ada satu rak lagi yang masih nggangur karena belum ada satu buku pun yang nangkring di atasnya. Duh... rasanya tak sia-sia datang ke Pekalongan. Benar kata Bang Andi, keadaannya memprihatinkan. Tetapi semangat para pengelolanya, patut diacungkan jempol. Rumah Cahaya Pekalongan memang benar-benar harus ada. HARUS! Bayangkan, jangankan perpustakaan, toko buku saja sulit ditemui di Pekalongan. Jadi, wajar saja kalau anak-anak FLP Pekalongan kurang bisa meng-update buku-buku yang baru terbit.

Setelah serah-terima bantuan, kami pun membongkar isi kardus berisi buku, untuk bahan bacaan dua anak SMP yang sedang ngendon di RC Pekalongan. Sekadar informasi, dua anak SMP itu baru pertama kalinya datang ke RC. Kami bertemu mereka di pantai. Rupanya mereka sedang bolos sekolah. Eko mengajak mereka ke RC untuk diwawancarai kenapa mereka bolos sekolah. Eko memang sedang ada proyek membina anak-anak bermasalah, contohnya ya kedua anak SMP yang suka bolos sekolah itu. Kedua anak SMP itu terlihat sangat antusias membaca buku-buku di RC. Bahkan satu anak mengambil lima. Apalagi RC Pekalongan memang memperbolehkan peminjaman buku untuk dibawa pulang.

Jam setengah sebelas, acara kosong. Kedua anak SMP itu sudah pulang. Sedangkan acara ngobrol bareng anak-anak FLP Pekalongan baru diadakan jam satu siang. Apalagi anak-anak FLP Pekalongan memang belum datang. Acara kosong itu pun dimanfaatkan untuk berjalan-jalan mengelilingi Kota Pekalongan, dari monumen sampai pasar grosir batik. Leyla niatnya mau beli batik, tapi setelah mengitari pasar itu, ternyata tidak ada yang dibeli satu pun. Habis, waktunya cuma satu jam. Lumayanlah. Setidaknya sudah melihat batik Pekalongan itu seperti apa sih. Ternyata sama saja dengan yang di Jakarta. Malah harganya lebih murah di Jakarta. Mungkin karena kami wisatawan kali, ya, jadinya dimahalin.

Dari pasar grosir, jam satu siang, kami ngobrol-ngobrol dengan anak-anak FLP Pekalongan yang mulai berdatangan. Mereka banyak bertanya tentang kepenulisan dan penerbitan. Guntur, salah satunya. Pengurus RC Pekalongan ini rupanya masih terbilang awam dalam hal kepenulisan dan penerbitan. Dia bertanya, kenapa menulis cerpen itu susah banget, berapa royalti yang diterima penulis, dan kenapa cerpen dia nggak lolos antologi cerpen lucu? Dia sedih banget karena nggak lolos. Dia juga bertanya, editor itu pekerjaannya apa sih? Apakah boleh kalau naskah tidak diedit? Kenapa sih editor sukanya memotong isi cerita orang? Dll. Leyla yang kebetulan menjadi tempatnya bertanya, hanya senyum-senyum. Maksudnya, tersenyum sambil menjawab. Kalau senyum-senyum doang, tebar pesona, dong!

Di lain tempat, maksudnya, tidak jauh dari tempat Leyla dan Guntur ngobrol, Nanik Susanti juga sedang menjelaskan hal yang sama kepada anak-anak FLP Pekalongan yang berkumpul mengitarinya. Mereka terlihat antusias menyimak uraian Nanik dan berebut meminta nomor HP Nanik. Dengan malu-malu Nanik, menjawab, “nomornya sih ada, tapi hp-nya nggak ada. Sudah saya jual. Pake nomor Ela aja, ya?” hiks!

Jam empat sore, acara diskusi bersama FLP Pekalongan, usai. Selanjutnya mereka menuju ke rumah NR. Ina Huda dan Khairul Huda, pasangan penulis. Rumah mereka jauh banget. Perjalanan satu jam kurang dengan naik motor berkcepatan 80 Km/ Jam. Meskipun menegangkan (jalan yang berliuk-liuk, maklum, naik ke gunung), tetap mengasyikkan. Apalagi Mbak Ina dan Pak Khairul sangat ramah menyambut kami. Tidak menyangka, di usianya yang ke-43 (kayaknya), Mbak Ina masih terlihat muda dan segar. Mungkin karena senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya. Orangnya juga ramai sekali, dan pintar bikin kue. Pulangnya, kami dibawakan kue buatannya yang tertinggal di bus (sayang banget... rezeki supir busnya, tuh!). Mbak Ina cerita, kalau mau menelepon atau menerima telepon, dia harus naik ke atas pohon dulu, baru dapat sinyal.

Jam setengah enam sore, kami pulang ke rumah Paklik Yossy. Semua serba buru-buru karena kami harus mengejar bus jam setengah delapan. Di Pekalongan kalau sudah di atas jam delapan, sudah tidak ada bus (katanya, lho. Nggak yakin banget, sih!). Alhamdulillah, kami berhasil mendapatkan bus, meskipun harus menempuh perjalanan jauh ke Comal (Pemalang). Sedih rasanya harus berpisah dengan anak-anak FLP dan RC Pekalongan yang penuh semangat. Kami tidak sempat menginap, meskipun sudah dipaksa-paksa. Bang Andi yang sebenarnya mau ke rumah orang tuanya di Purwokerto (kayaknya, agak lupa, nih), terpaksa ikut pulang bersama Leyla, Denny, dan Nanik. Niatnya sih mau melindungi Leyla dan Nanik, tapi di perjalanan selalu bilang, “Aduh... gara-gara Ela sama Nanik, nih....” Nanik yang kesal, bilang,” ya udah, Bang. Turun aja, deh.” Padahal itu sudah setengah perjalanan!

Keletihan membuat semua tertidur dalam perjalanan pulang.

Nanik Susanti, ternyata perjalanan ini menyenangkan. Benar-benar menghilangkan stres. Aku nggak capek sama sekali, lho. Mungkin karena udah rutin jogging tiap hari. Nggak sabar nunggu ke Bandung minggu depan (kali ini untuk acara Lingkar Pena Publishing di Fak Sastra Unpad). (Padahal sesampainya di RC Depok, dia “tewas” sampai jam delapan pagi!)

Leyla Imtichanah kirain bakal ngebetein, ternyata asyik juga. Minggu depan aku ikut ke Bandung juga deh, Mbak. Em... tapi.... (pengen belanja di Factory Outlet, tapi ada yang mau nemenin nggak ya? Kayak di Pekalongan. Trus lagi, pilih the last atau the future, ya? Soalnya minggu depan ada acara lain yang akan menentukan masa depannya. Deu....).

Andi Birulaut *Groak! Groak!* Menumpang tidur di RC Depok. Kata Eni (penjaga RC Depok), bangunnya baru sore hari, terus langsung ke Indonesia Book Fair. Heran, kok bisa ya? Padahal di sebelah, ada dua tikus mati yang baunya bikin Eni muntah-muntah dan Koko (ketua FLP Depok) ngomel-ngomel karena kebagian buang tikus.

Denny Prabowo Nggak tau kabarnya, karena pulang ke rumahnya sendiri. Jam sebelas baru nongol lagi di RC Depok dengan mata merah. “Mau ke book fair. Duh... aku ada rapat (FLP Depok), lagi!”

Yang pasti, perjalanan ini tentu sangat melelahkan. Tetapi sungguh, tidak terasa sama sekali keletihan itu. Yang ada adalah kepuasan karena bisa melihat sendiri kondisi RC Pekalongan sehingga semakin memotivasi kami untuk memberikan “lebih.”

Sebenarnya, kalau mau, kami bisa saja mengirimkan bantuan lewat pos dan transfer bank. Toh, biayanya sama saja dengan perjalanan ke Pekalongan. Tapi kami ingin melihat sendiri keadaan di sana supaya lebih yakin dan semangat. Semangat teman-teman di Pekalongan benar-benar menular kepada kami. Mereka yang berada di dalam keterbatasan saja bisa terus semangat, mengapa kami tidak?

Semoga RC Pekalongan semakin berkembang. Sekarang ini baru ada fasilitas beberapa buku yang tidak banyak dan dua rak buku. Tempat masih menumpang yang kemungkinan bisa dipindah lagi. Fasilitas lainnya, nonsense! Yah... semoga....

Terima kasih kepada teman-teman RC dan FLP Pekalongan yang sudah menyambut kami dengan sangat ramah. Maaf, kalau kami agak-agak merepotkan.

--Eko
--Yossy Maylani
--Aveus Har
--N. Dien (mau menikah nih, tanggal 19 Desember!)
--Nikmah Maula
--NR. Ina Huda
--Khairul Huda
--Karniti
--Bang Sat(ria)/ Hanafi
--Guntur
--Vi’s
--Sochibah
--dll (maaf ya kalau terlewat. Memori terbatas).
--terakhir, tentu saja, keluarga Paklik Yossy yang ramah dan baik hati.

Minggu, 23 Oktober 2005

Buka Puasa di Rumah Cahaya

Buka puasa bersama identik dengan ceramah dan pengajian. Di Rumah Cahaya Depok buka puasa bersama malah penuh tawa, teriakan, nyanyian dan celoteh tanpa henti. Soal menu santapan jangan ditanya. Dijamin kenyang. Bisa bawa oleh-oleh lagi.

Cindy melonjak senang saat namanya disebut. Bersama lima anak lainnya Siswi kelas V SD Bakti Jaya III Depok itu itu maju ke depan. Mereka terpilih sebagai pemenang lomba menulis kesan-kesan Acara Buka Puasa di Rumah cahaya Depok pada Minggu (23/10). Enam bocah itu semakin girang ketika menerima bingkisan jam meja cantik dan paket alat tulis.

Sebelum kembali ke tempat duduknya, Cindy diminta membacakan tulisannya.


Assalamualaikum Wr Wb Saat hari pertama saya ke rumah cahaya saya merasa senang. Dapat Ilmu. Di rumah cahaya ada kakak-kakak cantik yang mendongeng. Saya mendapatkan hadiah yang bagus dan kami berbuka bersama-sama. Sat hari kedua saya bertemu dengan teman-teman yang banyak. Kami mendengarkan dongeng yang lain dari hari pertama. Saya bertemu teman perempuan bernama Andika. Dia sangat cantik. Saya juga suka dengan Kak Elis karena lucu sekali. Saat hari ketiga saya bertemu dengan teman yang lain dari hari pertama dan kedua. Kami bermain-main dengan kakak yang sama dengan hari yang lalu. Ya sudah ya waktu sudah habis Wassalamualikum Wr Wb



Riuh tepuk tangan mengiringi Cindy duduk ke tempat semula. Tatap iri dari tiga puluh anak yang memenuhi Rumcay terlihat jelas “Coba aku menulis sebagus Cindy. Pasti dapat hadiah juga,” kira-kira begitulah terjemahan bebas dari tatap mata polos itu. Acara kemudian dilanjutkan lagi dengan berbagai permainan dan menyanyi bersama. Cindy dan anak-anak lainnya mengikuti dengan gembira, siapa tahu dapat hadiah lagi.

Dugaan Cindy tak meleset. Kak Ellis salah seorang panitia dari Sampoerna Foundation Scholars Club (SFSC) Jakarta menggelar permainan tebak nama. Para panitia diminta menyebutkan namanya satu persatu. Anak-anak harus mengulang nama salah satu panitia, tapi tidak boleh sama dengan yang sudah disebut temannya. Penebak yang benar akan mendapat bingkisan. Hal ini membuat Cindy dan anak-anak lainya berebutan menyebutkan nama kakak-kakak panitia. Riuh rendah suara baru mereda setelah mereka memegang hadiah.

Beberapa menit menjelang magrib, segelas tes hangat, satu paket makanan ringan sudah berada di hadapan Cindy. Sayup-sayup terdengar azan dari masjid. Cindy mengucapkan doa berbuka puasa, lalu menikmati sajian berbuka. Hatinya senang karena suasana berbuka sangat berbeda dengan di rumah. Bersama teman-teman dan kakak-kakak Rumah Cahaya.

Setelah salat magrib berjamaah, kakak panitia membagikan nasi kotak. Cindy membawa pulang Nasi itu supaya bisa dimakan bersama kelurganya di rumah. Lauknya enak sih, sayang kalau dimakan sendiri. kalau di rumah, Adik-kakaknya bisa ikut mencicipi, alasannya.

Dengan berat hati Cindy melangkah pulang. Hari itu adalah hari terakhir acara berbuka puasa di Rumah Cahaya. Sudah tiga hari tanggal ia berbuka puasa di sana. Acara serupa mungkin baru akan ditemuinya tahun depan. Cindy hanya bisa berharap acara untuk anak-anak di Rumah Cahaya tidah berhenti sampai di sini. Ia dan anak-anak tak mampu di sekitar Rumah Cahaya sangat membutuhkan tempat bermain dan belajar yang mencerahkan. Semoga kakak-kakak itu akan datang lagi untuk bermain dengan kami, pinta Cindy dalam hati.

Cindy hanyalah satu dari puluhan anak peserta Social Activity di rumah cahaya. Acara yang berlangsung tanggal 15, 16 dan 23 Oktober 2005 merupakan hasil kerja sama Sampoerna Foundation Scholars Club (SFSC) Jakarta dengan Rumah Cahaya Depok FLP. Masing-masing pihak berbagi peran menjadi panitia.

“Social Activity di Rumah Cahaya adalah program pertama para penerima beasiswa Yayasan Sampoerna angkatan 2005,” jelas Martoyo, presiden SFSC Jakarta. Menurut Mahasiswa S2 manajemen UI ini, kegiatan serupa akan diadakan secara berkala selama empat kali di masa kepengurusan mereka. “Titik tekan kegiatan kami lebih pada masalah pendidikan anak-anak jalanan dan kurang mampu,” lanjut ayah satu anak ini. SFSC Jakarta memilih FLP sebagai mitra program karena menganggap FLP memiliki visi misi sejalan dengan SFSC Jakarta.

Selama kegiatan berlangsung, Martoyo dan sembilan anggota SFSC Jakarta lainnya bahu membahu dengan kru Rumah Cahaya Depok. Setiap hari tidak kurang dari 30 anak datang ke Rumah Cahaya untuk mengikuti Social activity ini. “Tanggal 16, malah lebih dari 80 orang. Kami sempat khawatir konsumsinya kurang,” ungkap Denny Prabowo ketua Rumah Cahaya Depok. Masih menurut Denny, anak-anak yang datang berasal dari pemukiman sekitar Rumah Cahaya Depok. Kebanyakan berasal dari keluarga tak mampu, bahkan ada juga yang berstatus sebagai anak jalanan.

Dalam pelaksanaan acara, Denny dibantu juga oleh rekan-rekan FLP Depok. Sebagai pendongeng Mayuko, Lili Suliyatiningrum, Nanik Susanti, Lusiana M. Hevita, Rida dan Inayah turun menghibur anak-anak. Secara bergantian mereka bermain, bercerita dan bernyanyi dengan anak-anak. Acara buka puasa itu memang khas anak-anak. Semua pesan-pesan kebaikan disampakan lewat permaian. Satu cara mendidik yang efektif untuk anak-anak.

Bekas-bekas makanan tampak berserakan setelah acara usai. Mau tak mau panitia turun tangan membersihkan. Maklum saja, beberapa peserta balita yang belum bisa makan sendiri. Diantara kertas-kertas yang bertebaran, beberapa tulisan tangan menorehkan cerita.

Suatu hari aku dapat kabar ada buka bersama di Rumah Cahaya. Aku berkenalan dengan Kak Elis, Kak Vita, Kak Fajar, Kak Qodri, Kak Nanik. Enak sekali di sana. Ada dongeng, terus bisa menyanyi dengan peragaan sangat lucu. Ada kakak yang baik. Namanya kak Vita, Kak Nanik dan Kak Ella. Aku bisa jadi pintar di Rumah Cahaya. Di sini enak sekali. Aku bisa berkenalan dengan mereka. ( Nama Lupa ditulis)
***

Kesan saya di rumah cahaya : Di rumah cahaya aku sudah 3 hari buka di Rumah Cahaya. Saya senang bisa mendapat teman yang banyak di sana. Banyak kegiatan seperti mendongeng, belajar bernyanyi, memainkan perlombaan. Yang paling asyik jika mendapat hadiah. Di sana menunggu sampai azan magrib tiba. Sambil menunggu azan kita memainakn permainan seperti mencari makan, bernyanyi dan melakukan kegiatan lainnya. Setelah azan magrib kita mendapatkan paket makanan dan amkanan pencuci mulut dan boleh dimakan di rumah atau makan di Rumah Cahaya (Hudzaifah, Kelas V SD Muhammadiyah)
***

Pertama kali berbuka di rumah cahaya, aku merasa senang di sini. Adi mendapat teman dan sahabat yang banyak. Di sini kami diceritakan dongeng oleh kakak-kakak yang ada di sini. Semua pada mendengarkan ketika diceritakan kami pada tertawa karena ceritanya bagus dan lucu dan juga sangat menarik kami diceritakan ‘Harimau yang Baik’ dan ‘Kucing bersepartu lars’. Cerita ini dibacakan oleh kakak-kakak yang kubilang tadi. Maka itu Adi ingin berbuka puasa di Rumah Cahaya karena dapat teman-teman dan sahabat baru. Kalau ada yang seperti ini aku ingin ikut lagi. Walaupun bukan di Rumah Cahaya. (Arinaldi, SD Mekarjaya I Kelas IV)
***

Saya baru pertama kali ke rumah cahaya . Ini baru kali ini ke sini. Rasanya gembira. Saya senang sekali. Bergembira bersama teman-teman dan juga belajar nyanyi, bercerita, dongeng, bercanda dan enak bermain dan pada-pada lucu dan kocak bisa buka puasa bersama dan juga bisa bermain tebak-tebakan dan bercerita sambil bercanda dan juga bisa bermain kereta-keretaan. (Wahyu Pratama, MI Miftahul Falah, Kelas V)
***

Hari ahad pada pukul 17:30. Ya, itu adalah hari yang menggembirakan bagiku. Di Rumah Cahaya dekat Pasar Musi itu ada acara buka puasa bareng selama 3 hari katanya. Ya, walaupun aku cuma ikut sehari doang, tapi pengalaman ini cukup berharga dari pengalaman-pengalaman yang lain. Saat pertama kali datang ada Mbak-Mbak berbaju kuning meneriakkan yel-yel di depan anak-anak yang memperhatiakan dari tadi sambil meniariakkan yel. Mbak yang bebaju kuning itu keliahatanya semnagat benget ngebawain acara. (Rian)


Koko Nata
Ketua Dept. Program Kegiatan

Lihat foto kegiatan ini di Galeri Foto

Dongeng Ramadhan di Rumah Cahaya

Waktu: 25,26,30 Oktober 2005
Tempat: Rumah Cahaya FLP jl. Keadilan raya No 13 Depok Timur
Acara: Dongeng Ramadhan, kerja sama Rumah Cahaya, FLP depok, dan Penerima Beasiswa Sampurna Foundation.




















Rabu, 21 September 2005

Open House ke-2 Rumah Cahaya FLP


"Mengenal Dunia dengan Membaca dan Menulis "

Menyalakan Cahaya Rumah Cahaya


Perpustakaan umum biasanya tutup hari minggu. Di Depok Timur minggu malah menjadi hari teramai kunjungan Perpustakaan Rumah Cahaya. Kebiasaan yang perlu dibudayakan.

Minggu (21/09/05) pukul 09.00, rumah mungil bercat hijau itu terlihat ramai. Satu unit tenda menarik perhatian pengguna jalan keadilan raya. Ada pestakah di bangunan yang dikenal sebagai Rumah Cahaya FLP itu? Benar. Memang ada pesta di Perpustakaan umum, sekretariat FLP dan tempat kumpul FLP Cabang Depok itu. Pesta para pencinta buku dan penulis muda. Pesta itu bertajuk Open House Rumah Cahaya Depok.

Para tamu kebanyakan dari kalangan pelajar dan penduduk sekitar yang berjumlah 80 Orang. Mereka duduk berjejer rapi di teras perpustakaan hasil kerja sama Dompet Dhuafa Republika dan FLP itu. Beberapa orang terlihat sibuk melihat buku toko Lingkar Pena di samping teras. Tak sedikit merogoh saku untuk membeli buku. Maklum saat itu panitia memberikan diskon besar sampai 80%

Setengah jam kemudian acara pembukaan dimulai. M Irfan Hidayatullah selaku ketua umum FLP sejak Pebruari 2005 lalu memberikan kata sambutannya. Belum banyak yang tahu dengan sosok Dosen sastra Unpad ini. Ketua RT 02 ikut memberikan sambutannya. Beliau turut gembira, ada pihak yang masih peduli dengan kebiasaan tulis baca di jaman yang cenderung materialistis dan hedonis. Pak RT menghimbau pengurus Rumah Cahaya agar lebih mensosialisasikan kegiatan Rumah Cahaya untuk warga sekitar. Tamu dan undangan lalu dihibur oleh penyair berpakaian hitam-hitam dengan logo FLP Bandung di punggungnya. Hendra Veejay alias Hendra Purnamajuang.

Asma Nadia selanjutnya mengambil alih acara. Saatnya untuk Peluncuran buku karya anggota FLP. Penulis-penulis FLP muncul membawa buku karyanya. Laura Khalida (Double T, Gema Insani Press), Leyla Imtichanah (Daffa Loves Inka, Beranda Hikmah), Faiz (Aku Ini Puisi Cinta, DAR! Mizan). Tak ketinggalan penulis senior sekaligus pembina FLP Cabang Depok, Pipiet Senja membawa karya teman-teman FLP yang diterbitkan oleh Gema Insani Press. Dua buah kumpulan cerpen berjudul Ketika Cinta Menemukanmu dan Jendela Cinta.

Asma Nadia yang juga merupakan salah satu pendiri FLP sekaligus CEO Lingkar Pena Publishing, membuka bincang-bincang tersebut dengan permainan menarik. Tiga pelajar SMP maju tanpa malu untuk dikerjai Asma. Ketiganya diminta menyebutkan sebanyak-banyaknya buku yang ditulis oleh anggota FLP. Ulya Amalia, pelajar SMPN 3 Depok berhasil menyebutkan judul buku terbanyak dan berhak mendapat satu buku dari sponsor.

Abdurahman Faiz yang datang bersama Ayah Bundanya membacakan satu puisi dari buku kumpulan puisi terbarunya. Buku sahabatku. Saat ditanya apa resep Faiz bisa menulis seperti itu. Faiz sempat bingung. Ia cuma mengatakan sering bermain scrable dengan Ayah Bundanya untuk menambah kekayaan kosakata bahasanya.

Acara semakin seru ketika Boim Lebon dan Zaenal Radar T bergabung. Boim melemparkan banyolan-banyolan khasnya tanpa malu dan malu-maluin. Tentang pengalaman SMAnya yang suka mengedipkan mata pada seluruh cewek yang lewat di depan kelasnya. Usahanya cukup berhasil ketika ada cewek yang mendekatinya dan berkata “kamu kok ngedipin mata terus. Cacingan ya? Nih saya kasih obat cacing buat kamu.”

Boim juga dengan PDnya mempromosikan kumcer lucunya Don’t Worry Be Happy (Lingkar Pena Publishing). Kumpulan cerpen I Love You Somad juga tak henti disebut. Boim juga menjadi salah satu penulis kumcer yang seluruh dananya diberikan untuk milad FLP tersebut.

Para penulis menceritakan proses kreatif mereka yang biasa tapi bisa menghasilkan karya luar biasa. Laura Khalida menceritakan pengalamannya meramu tema kristenisasi dan perdagangan perempuan agar remaja terbuka wawasannya. Leyla mengisahkan proses penulisan buku remajanya hingga bisa menerbitkan buku sekaligus lima. Zaenal Radar T berbagi pengalaman usahanya mengolah tema-tema keseharian dengan manis. Tak heran bila karyanya selalu menghias berbagai majalah nasional.

Saat di luar berlangsung acara bedah buku. Di dalam Rumah Cahaya berlangsung pembuatan Origami dan Mendongeng oleh Nanik Susanti, Tuntas dan Dana Anggara. Beberapa anggota FLP Depok ikut membantu anak-anak melipat-lipat kertas. Suara mereka agak tenggelam oleh kerasnya sound system acara di luar. Tapi itu tidak menghalangi anak-anak untuk membuat origami dan mendengarkan dongeng.

Eva Maria Salsabila (Caca) ikut meramaikan acara di luar dengan pembacaan cerpen. Caca membacakan salah satu bab bukunya tentang petualangan Anak laki-laki yang pemberani. Namanya Adam. Ia tak takut hantu. Malah ia mengoleksi hantu-hantu yang ditangkapnya. Salah satu hantunya bernama Mojiku. Bentuknya seperti mata besar yang mempunyai lidah panjang. Jalan ceritanya khas anak-anak. Penuh imajinasi dan fantasi. “Jika teman-teman mau kelanjutan cerita Adam, tunggu saja buku Caca diterbitkan ya!” pesannya.

Acara ditutup untuk sementara guna salat Dzuhur. Pukul 13.00 Acara akan dilanjutkan dengan Dramatic Reading, musikalisasi puisi dan dialog kepenulisan. Masih banyak doorprize buku-buku yang akan dibagikan pada para tamu dan undangan.

Laura Khalida yang mewakili Wisata Hati, salah satu sponsor Open House mengawali acara sesi dua. Acara berlangsung di dalam rumah cahaya. Bagian ruangan depan disekat dengan tirau hijau. Penonton seolah-olah sedang berhadapan dengan panggung. Di depan tirau yang tertutup Laura memperkenalkan Wisata Hati sebagai sebuah Training Organizer masalah zakat dan sedekah. Ustad Yusuf Mansur yang sedianya memberikanTausyiah berhalangan hadir. Laura terpaksa turun tangan bercerita tentang keutamaan zakat. Juga program-program pelatihan Wisata Hati. Salah satunya adalah Training How To Get Money in Seven Days. “Tidak berhasil uang kembali,” promosi Laura.

Lebih lanjut Laura mengungkapkan “Sedekah bisa mendatangkan rezeki, menghilangkan penyakit juga mendekatkan jodoh.” Hal ini pernah dibuktikan sendiri oleh Laura. “Seorang teman dan saya pernah ditantang ustad Yusuf Mansur untuk sedekah. Saya waktu itu tidak punya uang jadi saya cuma sedekah Rp 10.000, sedangkan teman saya itu berani ngeluarin Rp 100.000. Ustad meminta kami untuk menyedekahkan uang itu pada orang yang membutuhkan. Seminggu kemudian saya mendapat job menulis. Sedangkan teman saya itu pinangannya diterima oleh seorang akhwat. Intinya, dari pada kita nyogok manusia agar urusan kita dimudahkan, lebih baik kita nyogok Allah dengan sedekah.” Untuk mengetahui tentang wisata hati lebih banyak. Laura menyarankan peserta untuk membuka www.wisatahati.com

Penampilan Kapak Ibrahim menghibur peserta beberapa menit kemudian. Tirai terbuka. Empat Jajaka FLP Bandung mementaskan musikalisasi puisi. Suara Lian Kagura menghentak gendang telinga diiringi biola, gitar dan perkusi. Empat puisi meluncur satu-satu. Peserta bertepuk tangan untuk penampilan Kapak Ibrahim yang sudah jauh-jauh datang dari Bandung. Layar hijau ditutup kembali.

Tujuh aktivis rumcay sekaligus anggota FLP Depok menamakan dirinya Teater Cahaya bersiap-siap. Dramatic reading yang akan mereka bawakan memang agak beda. Tidak hanya sekedar permainan intonasi dan gaya bicara. Ada gerak, mimik dan kesesuaian kostum dengan karakter yang dibawakan. Dramatic Reading mengadaptasi cerpen emansipasi karya Putu Wijaya. Di bawah arahan Andi Biru Laut cerpen emansipasi menjadi lebih hidup.

Penampilan dibuka dengan aksi mengepel lantai oleh seorang petugas Cleaning Service (Tami). Gadis yang sehari-harinya bertugas di Rumah Cahaya ini membawa steorofoam bertuliskan Emansipasi Putu Wijaya. Mengisahkan Tokoh Masyarakat (Ratno Fadillah) yang diwawancarai oleh penyiar radio (Leyla Imtichanah) dan operator radio (Dhinny El Fazila) yang sekaligus berperan sebagai narator. Tokoh masyarakat berkoar-koar tentang laki-laki yang harus bisa memasak juga. Memasak bukan hanya tugas perempuan. Hasil wawancaranya didengar banyak orang. Termasuk supirnya (Denny Prabowo) yang punya istri cerewet dan sangat hobi memasak (Vivi). Akibat ucapannya di radio itu, sesampainya di rumah tokoh masyarakat dipersilakan istrinya (Ratna Chandra Sari) untuk memasak. Tokoh masyarakat marah-marah. “Kurang ajar! Itu kan wawancara di radio! Jangan disamakan! Ini rumah bukan radio!” teriaknya. Sang istri terdiam. Cepat mengerti persoalan. Perkataan dan kelakuan suaminya berbeda.

Acara terakhir kembali dialog tentang kepenulisan yang kali ini dipandu oleh M. Irfan Hidayatullah. Sakti Wibowo dan Fahri Asiza didaulat maju untuk melayani pertanyaan-pertanyaan peserta. Buku terbaru Fahri Asiza Namaku Hud! Sudah dicetak ulang oleh Zikrul Remaja dengan sampul yang lebih perkasa. Peserta yang bisa bertanya mendapat hadiah. Menjelang Asar, acara berakhir. Sebelum resmi ditutup ada sedikit pengarahan mengenai kegiatan dan keanggotaan FLP Depok oleh Koko Nata.

Penyelengaraan Open House Rumah Cahaya Depok ini tak lepas dari dukungan penerbit mitra FLP. Beberapa penerbit yang mendukung adalah Lingkar Pena Publishing House, DAR! Mizan, Beranda Hikmah, Gema Insani Press, Gramedia, Zikrul Hakim, Majalah Muslimah, Wisata Hati, juga Majalah Annida. Seluruh pengisi acara juga ikhlas berpartisipasi tanpa bayaran. Beberapa FLP Cabang seperti FLP Cabang Bandung dan FLP Cabang Jakarta juga turut meramaikan acara.

Open House menjadi semacam titik lompatan agar Rumah Cahaya lebih banyak menebarkan cahaya untuk sekitarnya. Tak berlebihan kiranya pengurus Rumah cahaya yang baru menyeru seluruh pihak untuk menyemarakkan kegiatan di rumah cahaya. Sehari-hari Rumah Cahaya memberikan layanan baca untuk umum dari hari Selasa –Minggu mulai pukul 10.00 sampai pukul 17.00. Setiap hari Minggu ada baca dongeng dan origami untuk anak-anak pukul 10.00-12.00. Selain itu setiap bulan ada kegiatan kepenulisan seperti peluncuran buku, bedah buku dan jumpa penulis.

Kekurangan memang terlihat di sana sini. Tapi itu tak menyurutkan langkah pengurus Rumah Cahaya Depok dan FLP Cabang Depok untuk menjadikan Rumah Cahaya benar-benar sebagai Rumah baCa dan Hasilkan karYa. Sudah menjadi tekad FLP untuk memberikan cahaya untuk sesama. Maka kita tunggu saja munculnya cahaya-cahaya lain dari wilayah dan cabang FLP di seluruh indonesia dan mancanegara. Biar bumi makin terang dengan kebaikan dan menjadi rahmat bagi sekitar. (Koko Nata, Ketua Dept. Prorgram Kegiatan)


Selain acara Open House kami juga mengadakan Lomba Penulisan Cerpen Pelajar se-Depok.

Juri:
Denny Prabowo (Penulis)
Nanik Susanti (Editor Lingkar Pena Publishing House)
Leyla Imtichanah (Penulis)


Pemenang:

Kategori A (9-12 Tahun)

Dikarenakan Jumlah Naskah yang masuk hanya 4, maka panitia memutuskan bahwa untuk kategori A tidak ada pemenang Tetapi untuk partisipasi mereka dalam mengikuti lomba ini maka panitia memberikan bingkisan berupa buku dari sponsor.


Kategori B (13-18 Tahun)

Juara 1: Ulya Amaliya (SLTPN 3 Depok)
Hadiah: Uang Rp. 400.000
Paket Buku dari Sponsor
Berlangganan Majalah Muslimah

Juara 2 & 3 tidak ada dikarenakan tidak ada yang memenuhi syarat.


Juara Harapan: Faradila (SLTPN 3 Depok)

Hadiah: Uang Rp. 100.000
Paket Buku dari Sponsor
Berlangganan Majalah Muslimah


Terima kasih kami ucapkan kepada :


Sponsor:

Dompet Dhuafa Republika
Lingkar Pena Publishing House
DAR! Mizan
Beranda Hikmah
Gema Insani Press
Gramedia
Zikrul Hakim
Majalah Muslimah
Majalah Annida
Syaamil


Donatur :

Toko Buku Sederhana
Mafaza
Nurul Fikri
Dwinu
Ani Lizzarni
Itizam
Denny Prabowo
Ust Yusuf Mansur Wisata Hati
Pipiet Senja
Tuntas Margi Hartini
Hamba Allah


Pengisi acara :

Pipiet Senja
Asma Nadia
Boim Lebon
Zaenal Radar T
Fahri Asiza
Sakti Wibowo
Andi Biru Laut
Laura Khalida
Nanik Susanti
Dana Anggara
Tuntas
Abdurahman Faiz
Eva Maria Salsabila (Caca)
Kapak Ibrahim (FLP Bandung)
Teater Cahaya
Koko Nata (moderator)



FLPers

Helvy Tiana Rosa & Tommy S
Asma Nadia
Biru Laut
M. Irfan Hidayatullah
Azimah Rahayu
Rahmadiyanti
Lusiana M Hevita
FLP DKI, dll


Panitia:

Denny Prabowo
Dhinny El Fazila
Utamy Pratiwi
Ratno Fadillah
Leyla Imtichanah
Pipit Fitriyani
Muniroh Noor Ali
Tuntas Margi Rahayu
Supriyati
Arifani
Mailinda Safitri
Ratna Chandra Sari
Nurhadiansyah
Anik Sayekti
Witri Anggraini

dll

Minggu, 31 Juli 2005

Bedah Rara The Troublemaker

Minggu 31 Juli 2005, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 13.00. Rumcay masih sepi. Leyla Imtichanah atau yang lebih beken dengan sebutan Ella sudah dandan rapi bak seorang putri. Maklum, hari itu novel terbarunya bakal dibedah. Judulnya Rara The Troublemaker (Lingkar Pena, Juli 2005). Kebetulan aku yang jadi moderatornya. Menggantikan Dini (Sulistami Prihandini) yang berhalangan hadir karena ada urusan penting (Apaan tuh ? :-).

Jam 14.00 masih sepi. Tapi paling tidak sudah ada beberapa sosok manis di situ. Mereka adalah ; Tuntas, Mbak Dee dan Deni Prabowo. Kali ini yang akan ‘menguliti Ella sampe ke tulang-tulangnya’ (maaf kalo ada yang nggak setuju dengan metafor ini, tapi dulu kita semper beken di milis FLP gara-gara kata ini, huehehehehehehe... :-) itu Mbak Dianti.Tanpa menunggu lagi. Acarapun dimulai. Jadi yang diskusi pada siang itu adalah

1. Koko Nata (Moderator)
2. Rahmadiyanti Rusdi(Nama panggilannya Dee. Emang sepintas kayaknya nyaingi penulis SUPERNOVA itu. Tapi sumpe lo, nama Dee sudah dipake redaktur majalah Annida ini sebelum SUPERNOVA nongol. Masih mau protes, ya terserah.
3. Tuntas (Emang kalo denger ini jadi inget sama iklan obat...!!!? obat apa ya? Lupa! Yang pasti ada kata-kata. Sampe tuntas...tas...tas..:-)
4. Leyla Imtichanah (Penulis buku. Ga ada hubungan darah sama Laila Sari, bintang tempoe doeloe itoe. Tapi mungkin aja nyokapnya atau neneknya dulu penggemar Laila Sari. (Becanda ding. Jangan marah ya, La. Ella sensi(tif) sih.
5. Denny Prabowo (Kepala suku rumcay Depok yang juga seorang mountaineering (mountain = gunung, eerie = perasaan takut/ngeri, ring = cincin jadi mountaineering = tukang cincin gunung yang suka ngeri, Ih ngarang deh! Emang iya :-P

Meskipun cuma limaan. Diskusi kita cukup seru lho! Apalagi Tammy dengan ikhlasnya menyuguhkan sepiring kue dan minuman dingin (seger!!). Nggak sia-sia dong moderator bilang : “ Layla Imtichanah telah menghasilkan tujuh buah buku. Jadi Bayangin aja berapa royalti yang sudah dikumpulkan seorang Ella.” Bayangklan sodara-sodara tujuh buah buku. J.K Rowling aja yang baru nulis enam buah buku sudah kaya raya. Kekayaannya ditaksir melebihi ratu inggris. Apalagi Ella. (Ella melirik dengan padangan setajam elang. Menusuk, menikam! “Emang royalti kite berape seh?” Hihihihihihi...

Mbak Dianti mulai menguliti Ella, pertama-tama Mbak Dee, ngeluarin golok, trus “PLETAK...” Klepek...klepek...klepek... Jeritan tertahan menyayat telinga. Darah berceceran. Sesuatu menggelepar. (Yah ini sih adegan di rumah pemotongan ayam) Maaf... maaf...

Yang bener gini. “Saat saya membaca buku Ella, sebenarnya ada buku lain di samping saya, yaitu Harry Potter, The Half Blood Prince. Awalnya saya bingung buku siapakah yang harus saya baca dulu? Ella atau Rowling? Demi FLP saya memutuskan baca karya Ella dulu! (Eh, ga, ding. Ini rekayasa yang betul Mbak Dee milih Harry potter dulu.) “Makanya La! Lain kali nulisnya kudu lebih bagus dari Harry Potter,” ujar Mbak Dee.

Sebagaimana umumnya bedah buku. Mbak Dee memuji Ella terlebih dahulu. “Aduh Ella hebat sekali, masih muda, masih jomblo, sudah nulis banyak buku. Tapi sayang saya ini yang dikasih ke saya.” Ya, Asal tahu aja Ella sudah nulis 7 buah buku sebelum Rara The Troublemaker, yaitu :
1. Oke Kita Bersaing (ini yang menang lomba novel remaja di GIP, 2003, sekaligus debut pertama Ella di dunia kepenulisan indonesia. Asal tahu aja novel ini telah terjual lebih dari 10.000 eks Waaa slamet-slamet)
2. Cinta Buat Chira (Lingkar Pena, 2004)
3. Misteri Sanggar Cinta (Beranda Hikmah, 2004)
4. Rumah Cahaya (Zikrul Remaja, 2005)
5. Biarkan Stef pergi (DAR! Mizan, 2005)
6. Daffa Loves Inka (Beranda, 2005)
7. The True Love (Syamil, 2005)

Pujian lain dari Mbak Dee begini :
“Buku ini enak buat dibaca, ringan kayak krupuk, manis seperti permen, renyah bagai emping, empuk bagaikan molen (jadi laper!). Saya bacanya dua jam selesai. Rara The Troublemaker sudah memenuhi kriteria fiksi untuk remaja ; asyik, ringan, ngalir. Karakter Rara cukup kuat (tomboy, preman, sradak-sruduk). Jadi inget sama saya waktu ABG dulu :-)”

Ella tersipu-sipu mendengar pujian ini. Matanya berbinar-binar, bagai ada berjuta bintang berpendar. Pipinya memerah. Segaris senyum menampakkan gigi rapinya. Cie...

Sebuah motor tiba-tiba berhenti di depan rumcay. Muncullah Orin and the prince... tettetteret... Mbak Orin langsung gabung dengan kelompok sambil memangku si mungil, buah hatinya ikutan diskusi. Sesi selanjutnya adalah bagian yang ditunggu-tunggu. Kritikan!

“Novel Ella ini terlalu banyak tokoh sehingga plot utama kurang terlihat. Novel ini lebih terlihat sebagai kumpulat subplot yang dirangkum menjadi satu. Banyak tokoh yang kurang tergali karakternya,“ ungkap Mbak Dee

Denny nunjukin nama-nama tokoh yang iseng-iseng dicatatnya dari novel itu. Ada 20 lebih, wueeh...

Mbak Dee meneruskan kritikannya.
“Tidak ada bagian yang menunjukkan sebab akibat si tokoh menjadi Troublemaker. Tokoh Rara ini kan preman banget. Di bab satu aja dia berani ngambil kartu porno dari anak-anak kelasnya, nonjok temen2 cowok, ketus bin judes, mimpin tawuran sama sekolah lain lagi. (Weleh...weleh... ) Padahal lebih bagus kalau ada kejadian masa lalu atau apalah yang menyebabkan ia bertingkah seperti itu.“

Ella manggut-manggut menatap lantai yang ada semut bukan marmut.

“Salah satu bab, kalo nggak salah bab 5 panjang sekali. Di sana menceritakan penggojlokan Rara sat menjadi anggota PMR. Sebenarnya boleh-boleh aja sih mengupas PMR. Apalagi kalau sampai detail yang menyebabkan Rara yang preman bisa jadi lemah lembut, pengasih dan peyabar. Dalam novel memang kita boleh ngalor-ngidul, tapi kalo nggak ada hubungannya sama cerita, nggak usah diceritain. Lain kalo ada tujuan tertentu. Misalnya seperti di karya Imun, ‘Rahasia Dua Hati’. Imun (Mutmainnah) sengaja berpanjang-panjang mengupas kegiatan PMR karena ingin menebus kesalahnnya ketika SMA dulu nggak menyampaikan kasus yang terjadi di PMR. “

Ella masih mangut-manggut, yang lain juga setuju.

“Penyadaran Rara terlalu cepat, untungnya dia nggak dipaksa segera berjilbab. Kalau ya, ini berarti mengulangi kesalahan klise penulis berlabel islam yang suka memaksakan jilbabisasi pada tokohnya. Padahal nggak harus lho. Cukup dengan menyiratkan si tokoh akan berubah aja sudah cukup,” jelas Mbak Dee.

Selanjutnya diskusi berlanjut ke soal teenlit. Kalo diceritai secara detail bisa panjang banget. Jadi kesimpulan obrolan kami tentang teenlit itu begini.
1. Teenlit itu sudah ada dari jaman dulu. Tahun 80-an ada Lupus punya Hilman. Hanya saja teenlit sekarang jadi merk dagang Gramedia. Penerbit lain ikut-ikutan menerbitkan teenlit dengan kemasan serupa. Pemberitaan di media juga membentuk opini seolah-olah teenlit itu baru ada tahun 2000-an ini.
2. Boleh dong kita bilang kalo FLP adalah pelopor fiksi remaja islami / teenlit islami di Indonesia. Yang ga setuju silahkan protes. Boomingnya fiksi remaja tak lepas dari boomingnya fiksi islami mulai tahun 1999.
3. Kenapa Fiksi remaja itu laku ?
- Ceritanya gue banget. Kayak melihat gue sendiri dalam buku itu (gue = remaja)
- Bahasanya gue banget. Serasa denger orang ngomong di dekat kita.
- Cover dan layout pas dan sesuai selera remaja
4. FLP harus bisa bermain cantik. Ga jamannya lagi menjilbabi tokoh secara paksa. Yang penting ada hikmah dan pencerahan dari tulisan kita.

Acara bedah buku berakhir happy ending. Makan-makan dan minum-minum. Lepas dari segala kekuarangan buku Ella satu hal yang perlu diingat. BELI RARA THE TROUBLE MAKER! Terbitan LINGKAR PENA. Covernya KEREN BANGET!!! Harganya Rp 20.000. Murah kan!

Banyak hal bisa kita petik dari dikusi hari itu. Ini bisa jadi semacam bekal bagi kita untuk menulis besok-besok. Tapi jangan sampe diskusi hari ini jadi malah penghalang kita untuk nulis (sebab kadang-kadang ada penulis pemula yang memegang teguh omongan seniornya. Kalo nulis remaja harus gaul. Kalo bikin cerita harus gaul banget. Padahal ga juga sih. Yang penting nulis aja dulu. Baru ntar diedit)

Sekian dulu curhat bedah buku di Rumcay. Mudah-mudahan minggu depan kita-kita (khususnya yang biasa mangkal di Rumcay) tetap bersemangat untuk diskusi dan menulis. Sukses selalu!

Rabu, 13 April 2005

Meet The Writter di Rumah Cahaya

Pukul 10:15 WIB. Hadi yang harus mempersiapkan acara Meet The Writer—tanpa Hendra yang sedang pulang kampung ke Bandung—datang dengan mata sembab, sebab belum lunas kantuk karena begadang menyelesaikan tulisan sampai Subuh. Tapi tak seorang pun pengurus Rumcay Depok yang sudah hadir di tempat itu—kecuali Tami yang memang tinggal di sana. Rencananya, sebelum acara dilangsungkan, pengurus ingin mengadakan rapat, membicarakan launching Rumah Cahaya Depok yang ke 2.

“Ke mana yang lainnya?” tanya Hadi pada Tami saat tak menemukan seorang pun pengurus Rumcay selain dirinya di sana.

“Lho, emangnya Hadi belum tau kalo acara rapatnya diundur sampai jam tiga sore, selasai acara jumpa penulis?”

“Hah?!” mata Hadi yang kuyu membelalak lebar. “Kok saya gak dibilangin sih?”

Tami hanya mengangkat bahu.

Pukul 11:30 WIB. Ratna yang mengira datang terlambat tergesa masuk ke dalam Rumcay dengan wajah bersalah. Tapi manakala dia hanya menemukan Hadi dan Tami di sana, keningnya berkerut, ribuan tanda tanya menyembul dari balik jilbab putihnya.

“Rapatnya gak jadi?”

“Diundur sampe jam tiga!”

“Uh, gimana sih Mas Denny? Katanya jam sepuluh? Kalo tau begini aku datangnya jam satuan aja!”

Pukul 12:00 WIB. Saya tiba di Rumcay disambut dengan gerutu Hadi dan tatap mata kesal Ratna. Sudah ada beberapa pengunjung yang ingin menghadiri acara temu penulis, juga beberapa anak FLP Depok.

“Katanya jam sepuluh?!” Ratna keki.

“Lho, emangnya kamu gak di-SMS sama Arifani?”

Ratna menggelengkan kepala, masih menyimpan kesal di wajahnya.

“Hehehe... sori deh. Sebenarnya aku mau SMS Ratna, tapi gak ada pulsa. Tapi bukan salah aku dong? Aku kan udah minta Rifa SMS kamu...”

Suara adzan Zuhur mengumandang. Saya, Hadi, Ratno (Penguasa toko buku di Rumah Cahaya) dan beberapa teman FLP Depok pergi ke masjid di belakang Rumcay. Sedang para akhwat menunaikan salat di Rumcay.

Pukul 13:00 WIB. Adzimattinur Siregar yang menjadi pembicara datang. Sayang Leyla Imtichanah yang seharusnya juga datang sebagai pembicara harus melewatkan kesempatan bertatap muka dengan penggemar-penggemarnya.

Dan acara yang sedianya dilaksanakan tepat pukul satu siang harus diundur sampai setengah dua, karena belum banyak pengunjung yang datang ke Rumcay. Sepertinya anak-anak remaja di kota Depok, lebih memilih menghadiri konsernya Seurius di lapangan parkir Goro, yang diselenggarakan bersamaan waktunya dengan acara jumpa penulis. Hmmm... kayaknya kita punya PR buat menarik minat para remaja, khususnya anak-anak sekolah di kota Depok, untuk lebih mencintai membaca dan menulis!

Namun terlepas dari itu semua, acara jumpa penulis yang dipandu oleh saya sendiri, lumayan sukses. Banyak juga teman-teman dari FLP Depok yang datang untuk menimba pengalaman dari Adzimattinur Siregar.

Banyak Hal yang dibagi oleh penulis yang sering dipanggil Butet itu, yang menerbitkan bukunya pertama kali saat dia masih duduk di bangku SMP. Dari bagaimana dia mendapatkan ide cerita, sampai mengolahnya menjadi sebuah novel serial. Ternyata, seorang Adzimattinur pernah merasa minder karena bermasalah dengan huruh R (alias cadel) dan nilai F dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi dengan menulis, dia berhasil menumbuhkan kepercayaan diri. Boleh dibilang, menulis menjadi semacam terapi baginya untuk lebih percaya pada kemampuannya sendiri. Di samping sering menerima pujian dari pembaca buku-bukunya, ternyata, sebagai penulis yang sudah cukup dikenal di kalangan pembaca novel-novel islami, dia sering juga mendapatkan semacam kritikan dari pembaca yang lebih seperti mencemooh karyanya. Tapi Adzimattinur malah merasa berterima kasih dengan orang-orang yang mengkritik atau hanya sekedar mencemooh karyanya, karena setidaknya, itu merupakan pertanda mereka memperhatikannya. Dan peduli dengannya. Wah, bijak banget ya ABG yang satu ini? Di akhir acara, Adzimattinur melemparkan pertanyaan konyol kepada pengunjung yang ingin mendapatkan bukunya. Begini pertanyaannya, “Sebutkan letak bangku tempat saya duduk di sekolah?” Pertaanyaan Adzimattinur itu segera disambut tawa oleh para pengunjung. Siapa juga yang tahu tempat duduknya di sekolah?

Alhamdulillah, meski jauh dari sempurna, acara Meet The Writer berjalan dengan cukup lancar, sampai acara ditutup pada pukul tiga. Tapi kami memang masih memiliki pekerjaan rumah untuk membangkitkan minat baca, tidak saja di kalangan remaja, tapi juga anak-anak, dan bila perlu orang-orang dewasa di kota Depok. Semoga saja kami mampu melaksanakannya, sehingga di masa yang akan datang, akan banyak penulis-penulis lahir dari Rumah Cahaya Depok. Mohon doanyaJ

Denny Prabowo
Ketua Divisi Rumah Cahaya FLP

Aku, Buku, dan Cahaya Itu

Empat dus karton menduduki salah satu sudut Rumah Cahaya. Aku ingin tahu isinya, aku membukanya. Dan aku menemukan berlembar-lembar harta berharga di sana.

Ayah-ibuku bukan orang mampu, mereka hanyalah PNS dengan penghasilan yang disunat aneka potongan ini-itu. Jadi aku tak tega minta benda-benda mahal pada mereka. Tapi ayah ibu tahu harap yang tersirat dari sorot mataku. Jadi mereka sering membelikan aku majalah dan buku. Meskipun bekas tidak mengapa. Meskipun buram yang penting bisa terbaca.
Agar Ayah ibu tak habis gajinya cuma untuk beli buku, aku rajin meminjam bacaan pada teman. Sesekali aku pergi ke perpustakaan umum dan tempat penyewaan buku. Meskipun jauh tidak masalah. Asalkan hasrat bacaku terpuaskan. Jadilah aku sering menempuh jalan berkilo-
kilo jalan kaki untuk meminjam buku.

Saat beranjak dewasa dan sudah punya penghasilan sendiri, buku tetap menjadi barang mahal bagiku. Terlebih jika aku beli, baca, selesai. Buku selanjutnya teronggok berdebu di lemari. Uang yang berubah jadi buku terasa kecil manfaatnya karena hanya aku yang menikmatinya.
Bukankah akan lebih bermanfaat jika banyak orang menyerap maknanya.

Menyumbangkan buku tersebut di perpustakaan adalah solusi. Namun aku suka jengkel. Petugas dan pengunjung perpustakaan sering semena-mena memperlakukan buku. Halaman buku dilipat, sampul buku ditekuk, bahkan dijadikan bantal. Andai buku bisa protes pasti mereka akan berteriak "Jangan sia-siakan diriku!!!"

Sekarang aku menjadi pengelola sebuah perpustakaan. Rumah Cahaya namanya. Di sana banyak anak-anak seperti aku dulu. Tak mampu tapi haus ilmu, tak punya tapi banyak tanya, tak berharta tapi berharap bisa melihat keajaiban dunia kata-kata. Setiap hari mereka datang
dan bertanya dengan sorot matanya "buku apa lagi yang bisa kami baca hari ini?"
Sayangnya buku-buku di Rumah Cahaya minim sekali. Tak banyak dermawan yang rutin setiap bulan menyumbang buku. Mungkin mereka berpikiran seperti aku, bahwa buku akan disia-siakan bila berada di sini. Namun aku dan teman-teman Forum Lingkar Pena sudah berkomitmen untuk menjaga buku-buku itu agar tetap bercahaya, menerangi
sekitarnya dengan hikmah.

Suatu hari aku menemukan empas dus karton menduduki salah satu sudut Rumah Cahaya. Aku ingin tahu isinya, aku membukanya. Dan aku menemukan berlembar-lembar harta berharga di sana. "Subhanallah!!!" teriakku. Aku terbelalak. Begitu juga dengan teman-teman yang lain.
Mereka jadi semangat membaca, tergerak lagi untuk menulis. Sumbangan empat dus buku itu sangat berarti bagi kami, orang yang tak mampu membeli banyak buku.

Empat dus buku itu adalah sumbangan dari PT. Inti Karya Persada Teknik dalam rangka ulang tahunnya ke-24. Sungguh sebuah tanda cinta yang sangat bermanfaat untuk sesama. Mereka rela mengeluarkan uang berjuta-juta untuk membuat Rumah Cahaya semakin bercahaya. Sumbangan buku-buku tersebut adalah pelita, penggerak langkah sekaligur mengobar semangat teman-teman untuk berkarya.

Banyak cara manusia memperingati hari jadinya. Kebanyakan dengan cara hura-hura. Membuat pesta meriah dengan tarian dan lagu-lagu. Mengenyangkan perut-perut buncit sementara banyak mulut menganga mohon suapan di sekitarnya. Alhamdulillah IKPT memilih cara yang
berbeda. Uang tidak masuk ke kantong artis penjual suara dan penari-penari pinggul, tapi menjelma jadi buku.

Duduk di Rumah Cahaya, melihat anak-anak yang membaca buku-buku mengingatkanku pada masa lalu. Teringat jauhnya jalan yang harus kutempuh untuk meminjam buku. Teringat sorot mata menghina karena si lusuh berusaha masuk di komplek mewah hanya untuk membaca
buku. Sungguh beruntung anak-anak di Rumah Cahaya ini tidak mengalami nasib seperti aku.

Aku hanya bisa berharap, semakin banyak orang-orang yang tersentuh, terketuk hatinya lalu mengerakkan raga untuk bertindak. Menyisihkan sebagin rejeki untuk membantu sesama. Menyalakan cahaya di Rumah-Rumah kumuh. Dan cahaya-cahaya itu akan menjadi bintang
penerang di alam kubur, pintu masuk menuju surga. Doa selalu terucap dari dhuafa, karena masih ada yang peduli pada mereka.

Terima Kasih, IKPT
Koko Nata, Ketua FLP Cabang Depok

Kamis, 31 Maret 2005

Banner RC




topxoo3-rev

topivj8-rev

background - topih9

background - closebigcolumnmf0

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites